Pokdarwis Dieng Pandawa Dan Pariwisata Pegunungan Dieng


Sejak di resmikannya Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Dieng Pandawa tahun 2007 oleh Dinas Pariwisata Banjarnegara, jumlah pengunjung (wisatawan) baik wisatawan Nusantara ataupun asingrtumbuh signifikan.

Tercatat sejak tahun 2010 jumlah wisatawan Nusantara sebanyak 103.339 orang dan wisatawan asing sebanyak 5.420 orang. Tahun 2011 wisatawan Nusantara 114.561 orang, wisatawan asing 6.204 orang. Tahun 2012 wisatawan Nusantara 166.108, wisatawan asing 7.545. Tahun 2013 wisatawan Nusantara 166.431 dan wisatawan asing 7.648 orang. Tahun 2014 wisatawan Nusantara 290.161 orang dan wisatawan asing 7.648 orang. Tahun 2014 wisatawan Nusantara 290.161 orang dan wisatawan asing 7.489 orang.

Kedatangan wisatawan tersebut juga berdampak pada peningkatan pendapatan warga desa Dieng Kulon yang mayoritasnya berprofesi sebagai petani. Terutama sejak dua tahun terakhir ini, derap kamjuan ekonomi mereka sangat signifikan. Di hari-hari biasa setiap Sabtu malam dari 50 home stay yang ada di Dieng Kulon saja, 15-20% selalu ada yang menempatinya. Apalagi jika ada event tahunan seperti Dieng Culture Festival. Dari 800 rumah yang ada di Dieng Kulon, ada 500 rumah yang siap dijadikan home stay.
Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, sejak digalakkan desa wisata di Dieng Kulon ini, kesadaran masyarakat tentang desa wisata mulai tumbuh. Kebersihan, ketertiban dan kenyamanan Dieng menjadi perhatian penduduknya. Bagaimana proses perjalanan desa wisata di Dieng Kulon ini? Berikut wawancara Syukron Ali dari SWA Online dengan para pemangku kepentingan desa wisata di Dieng Kulon:
Alif Fouzi [Penggerak Desa Wisata/Pendiri Pokdarwis Dieng Pandawa]
Pria kelahiran Dieng 15 April 1978 ini punya visi untuk menyejahterakan Desa Dieng Kulon. Dengan bekal pendidikan dari pesantren dan dorongan dari sang Ibu, Alif memiliki tekad yang kuat agar kehidupan yang sebentar di dunia ini dapat mendatangkan manfaat yang seluas-luasnya bagi masyarakat. Pengalamannya sebagai ketua Karang Taruna memberinya bekal pengalaman untuk menggerakan pemuda di Dieng.
Bagaimana proses berdirinya Desa Wisata di Dieng ini?
Awalnya ketika pertama kali saya bergabung dengan Karang Taruna di desa pada tahun 2003. Saat itu, saya adalah pengurus Karang Taruna paling muda. Apalagi saat wakil ketuanya mengundurkan diri dan mau tidak mau amanah dari masyarakat harus saya emban untuk membimbing masyarakat. Mungkin karena saya dulu adalah ketua tim sepak bola, dan pola pikir masyarakat waktu itu seorang ketua adalah yang penting bisa mendampingi olah raga tingkat kampung.
Di tahun 2005, saya merasa pusing atas informasi yang menyebar secara nasional atas eksploitasi penanaman kentang yang menyebabkan kerusakan alam Dieng. Saya melihat, waktu itu sebenarnya masyarakat Dieng hanya dijadikan kambing hitam. Lalu bertambah pula dengan kondisi pemuda yang saat itu masih banyak waktu kosongnya. Tiga hari kerja bantu orang tua, dua harinya nganggur total. Sehingga banyak terjadi perilaku sosial yang negatif. Ya, tawuran antar desa lah, nongkrong di pinggir jalan tanpa tujuan dan macem-macem perilaku negatif lainnya.
Dengan kondisi seperti itu, akhirnya saya berpikir untuk mencari solusi agar pemuda di desa saya ini dapat terakomodir dengan baik. Nah, sebelum bergabung di Karang Taruna itu, sebenarnya saya suka bermain ke Hotel Gunung Mas yang berlokasi di Dieng Kulon ini. Hampir tiap minggu selalu saja ada tamu yang menginap di hotel. Waktu itu ada petugas hotel yang minta tolong pada saya untuk mendampingi tamu dari Jakarta untuk keliling Dieng. Biasanya setelah sarapan pagi, saya mengajak mereka keliling ke objek wisata di Dieng. Setelah muter-muter Dieng, tamu itu memberi saya uang Rp 25 ribu. Bahkan kadang ada yang memberi sampai Rp 50 ribu.
Sejak itu, saya mulai penasaran dengan pariwisata. Sebagai anak petani kami memiliki kelompok tani yang mendapat support dari Dinas Pertanian. Lalu saya bertanya pada Dinas Pariwisata, ternyata memang ada program kelompok untuk wisata. Namanya kelompok sadar wisata (Pokdarwis). Di tahun 2006 saya membentuk kelompok sadar wisata (Pokdarwis) Dieng Pandawa. Saya mulai menganalisis tentang kemampuan pemuda Desa Dieng. Saya mengajak teman-teman pemuda antar RT lainnya di Dieng untuk mengadakan berbagai macam kegiatan positif yang bertujuan untuk menggali potensi pemuda di Dieng dan mengisi waktu luang mereka dengan kegiatan yang lebih bermanfaat.
Atas kiprah tersebut, saya dijadikan sebagai fasilitator pemberdayaan pariwisata masyarakat ekonomi. Setelah banyak bertanya-tanya tentang wisata ke Dinas Pariwisata dan mempelajari tentang Desa Wisata di desa lainnya. Pokdarwis Dieng Pandawa menjadi penggerak dari kegiatan Desa Wisata di Dieng Kulon ini. Hingga akhirnya pada tahun 2007 nama Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Dieng Pandawa diresmikan oleh Dinas Pariwisata Banjarnegara.
Bagaimana cara Anda mengemas Dieng menjadi Desa Wisata?
Jadi, cara kami mengemas desa wisata ini lewat Pokdarwis Dieng Pandawa. Yang terdiri dari 8 kelompok kerja (Pokja) usaha pariwisata. Ada Pokja homestay, Pokja UKM makanan khas, Pokja kerajinan, Pokja guide, Pokja seni budaya, Pokja agrowisata, Pokja keamanan, dan Pokja pemasaran. Setiap Pokja tersebut dikepalai oleh seorang pemuda Dieng yang bisa dibilang jenjang pendidikan formalnya tidak banyak yang sampai pada level perguruan tinggi.
Lalu kami kemas dalam paket wisata yang melingkupi semua aspek tur wisata di Dieng. Termasuk fasilitas homestay, guide lokal, atraksi seni tradisional Dieng, makan dan minum serta souvenir dari berbagai kuliner dan kerajinan khas Dieng. Untuk event tahunannya, kami juga membuat sebuah event bernama Dieng Culture Festival. Yang terdiri dari berbagai event, mulai dari parade kesenian (wayang kulit, rampak yakso, tari topeng, thek-thek, warok dan budaya lokal lainnya). Pameran produk kreatif, pesta balon dan lampion, festival film Dieng, ritual pencukuran rambut gembel dan jazz atas awan.
Sebagai penyelenggara desa wisata, bagaimana langkah konkret Anda memberdayakan masyarakat?
Setelah kami promosikan dan kami jual desa wisata Dieng ke publik, banyak wisatawan yang datang ke Dieng. Otomatis mereka yang datang ke Dieng baik rombongan atau perorangan biasanya mencari tempat penginapan, maka kami kelola homestay. Bahkan di event tahunan di Dieng Culture Festival, saking banyaknya jumlah wisatawan, kami bekerjasama dengan beberapa desa sekitar Dieng untuk menyediakan homestay. Setelah datang, otomatis orang pingin beli oleh-oleh khas Dieng. Maka, produk makanan dan kerajinan juga secara otomatis tumbuh. Begitu juga dengan guide atau pemandu wisata. Tidak hanya dari warga Deing sendiri, dari Wonosobo dan beberapa daerah sekitar Dieng juga merasakan manfaatnya.
Agar lingkungan Dieng terus nyaman dan bersih. Kami juga ikut serta memfasilitasi kebersihan, dengan membeli tempat sampah dari profit Dieng Pandawa yang ditaruh di sebagian besar wilayah Dieng Kulon. Nah, dari sekian UKMu dan Pokja yang di bawah naungan Pokdarwis Dieng Pandawa, kami menerapkan 9 kategori yang tujuannya untuk memudahkan kami mengevaluasi dan melihat perkembangan UKM/Pokja binaan kami.
Pertama. Tahap embrio, lalu diamati perkembangannya lewat perangkat desa. Kedua, memberi dukungan dan arahan tingkat desa. Ketiga, jika layak maka akan masuk dalam program desa/masuk RPJM desa. Keempat, pengembangan pendampingan usaha dengan suatu program yang masuk sesuai RPJM desa. Kelima, hasil usaha/produk sudah mulai bisa dipromosikan. Sehingga diharapkan menjadi produk unggulan di dampingi Pemda dan perbankan untuk pemodalan. Keenam, dari pendampingan Pemda tersebut, produk bisa makin besar dan berkualitas. Ketujuh, setelah tingkat kualitas, kuantitas, dan kontinuitas dapat tercapai dan berjalan lancar, maka selanjutnya yang kedelapan usaha tersebut sudah dapat mandiri. Dan yang kesembilan, setelah mandiri, maka usaha yang kami bina tersebut berkewajiban membantu kegiatan lain yang berhubungan dengan Desa Wisata.
Pak Naryono [Pemangku adat/spiritual desa Dieng Kulon]
Apa saja budaya lokal Desa Dieng yang menjadi bagian dari Desa Wisata?
Yang sudah menjadi tradisi turun temurun adalah ritual pencukuran rambut gembel (gimbal). Jadi, sehari sebelum diadakan ritual ruwatan terlebih dahulu dilakukan prosesi napak tilas yang dipimpin oleh sesepuh pemangku adat serta sejumlah tokoh, menuju beberapa tampat keramat sekitar Dieng. Lalu prosesi pencukuran rambut gembel ini sang anak yang berambut gembel naik di atas andhong atau angkutan tradisional lalu diarak dengan dengan tarian/seni tradisional manuju lokasi pencukuran.
Kemudian sang anak dimandikan (jamasan) di Sendang Sedayu atau Sendang Maerokoco yang airnya sudah ditambah dengan kembang tujuh rupa (sapta warna). Setelah prosesi Jamasan selesai, anak-anak gembel dikawal ke tempat pencukuran. Kemudian setelah itu dilanjutkan dengan tasyakuran dan doa, lalu sesaji yang dibawa dibagikan kepada para pengunjung sambil menyaksikan sajian atraksi kesenian. Tak jauh dari lokasi pencukuran dilakukan ngalap berkah dengan membagikan tumpeng dan makanan yang dipimpim oleh pemangku adat dan tokoh masyarakat.
Di bidang kesenian, kami juga melakukan baritan. Yaitu suatu perayaan jaga desa/balak desa. Menjaga desa dari segala malapetaka yang menimpanya. Dengan memotong kambing gendit, kambing khas Dieng yang memiliki ciri-ciri berupa bulu yang melingkar seperti sabuk di bagian tubuhnya. Lalu potongan kepala kambing itu ditaruh di tengah-tengah desa, dan ke empat kakinya di empat ujung desa. Selanjutnya ada rodad, yaitu membaca shalawat nabi yang diiringi dengan tabuhan rebana, serta tarian lengger atau tari kelana topeng, thek-thek, tari rampak dan dan pagelaran wayang dari Pagubuyuban Kariwatan Padilaras Wayang Dieng.
Jadi, yang menjadi keunikan dan daya tarik tersendiri bagi wisatawan adalah, setiap tradisi atau budaya yang ada di Dieng ini tidak ada di desa lainnya. Dan memang sejak dahulu tradisi-tradisi seperti itu selalu di jaga.
Slamet Budiono [Lurah desa Dieng Kulon 2012-2018]
Bagaimana perkembangan ekonomi masyarakat Desa Dieng setelah adanya Desa Wisata?
Alhamdulillah, sekarang masyarakat sudah sadar akan pentingnya wisata. Dari kesadaran wisata itu, akhirnya perekonomian warga jadi sangat berkembang. Jika dulu mayoritas penghasilan warga Desa Dieng Kulon ini hanya bertani. Kini, setelah ada Desa Wisata masyarakat dapat memperoleh sumber penghasilan lewat sektor pariwisata. Kebersihan, keindahan dan kenyamanan desa juga akhirnya terjaga. Ya, intinya lewat Desa Wisata ini, masyarakat Dieng Kulon jadi punya penghasilan tambahan.
Seberapa besar keterlibatan masyarakat dalam Desa Wisata?
Dari 3.100 warga desa Dieng Kulon ini, nyaris semua warga terlibat dalam Desa Wisata, terutama dalam pengelolaan home stay. Di hari-hari biasa saja, setiap Sabtu malam dari 50 home stay yang ada di Dieng Kulon, Ada 15-20% home stay yang disewa. Apalagi jika ada event tahunan seperti Dieng Culture Festival. Dari 800 rumah yang ada di Dieng Kulon, ada 500 rumah yang siap dijadikan home stay.
Sejak saya menjabat sebagai lurah pada tahun 2012 lalu, sSya selalu mengintruksikan agar warga mau menanam pohon carica dan terong belanda di sepanjang pinggir jalan. Selain sebagai penjaga lahan dari longsor, juga bisa menjadi stok bahan makanan khas Dieng yang dapat menjadi bagian dari program Desa Wisata. Begitu juga dengan para pemudanya. Ada yang terlibat sebagai pemandu wisata, penyedia jasa travel dan banyak lagi.
Ibnu Hasan [Kepala Unit Pelaksana Teknis kawasan wisata Dieng]
Bagaimana perkembangan wisatawan dari tahun ke tahun?
Perkembangannya cukup signifikan dari tahun ke tahun. Tercatat sejak tahun 2010 jumlah wisatawan Nusantara sebanyak 103.339 orang dan wisatawan asing sebanyak 5.420 orang. Tahun 2011 wisatawan Nusantara 114.561 orang, wisatawan asing 6.204 orang. Tahun 2012 wisatawan Nusantara 166.108, wisatawan asing 7.545. Tahun 2013 wisatawan Nusantara 166.431 dan wisatawan asing 7.648 orang. Tahun 2014 wisatawan Nusantara 290.161 orang dan wisatawan asing 7.489 orang.
Untuk homestay pun bertambah banyak dari tahun ke tahun. Rutinitas wisatawan menginap sebagian besar di Desa Dieng Kulon dan Dieng Wetan. Jika ada event khusus, seperti event desa, event hari besar, kami sampai bekerjasama dengan desa sekitar Dieng untuk penginap
Amim [Tim Pokja marketing Pokdarwis Dieng Pandawa]
Bagaimana cara Anda mempromosikan desa wisata Dieng?
Jadi, sebelum ada Desa Wisata ini. Tradisi budaya seperti potong rambut gimbal sudah biasa kami lakukan. Tapi sejak dulu masyarakat hanya jadi penonton. Dan di tahun 2004-2005 atau di awal-awal Pokdarwis Dieng Pandawa ini acaranya masih sangat sederhana dan belum meriah. Berbekal pengalaman yang terus kami evaluasi, baru di tahun 2010 kami kemas sedimikan rupa agar masyarakat tidak jadi penonton di rumah sendiri. Perlahan-lahan berubah menjadi pemain. Jadi, yang nonton tidak lagi warga lokal, tapi para wisatawan yang datang dari berbagai daerah. Dari situ, akhirnya para wisatawan yang hadir merekomendasikan kepada teman lainnya untuk datang melihat acara di Dieng.
Karena pariwisata dapat menyentuh segala aspek, maka, di setiap ada kesempatan pameran tentang pariwisata dan pengembangan ekonomi di berbagai tempat selalu kami ikuti. Meski dengan biaya sendiri dan dengan dengan konsep yang masih sangat tradisional tentang tata kelola dan kemasannya, kami bawa hasil kreativitas masyarakat Desa Dieng mulai dari makanan, kerajinan tangan dan sebagainya dalam pameran tersebut.
Selain itu, kami juga mempromosikan Desa Wisata Dieng ini lewat berbagai media. Mulai dari media online seperti website. Kami punya 4 website yang masuk dalam jaringan Pokdarwis Dieng Pandawa, lalu media sosial dan bekerjasama dengan 30 lebih travel di Indonesia. Sejak website diluncurkan 3 tahun lalu, pengunjung mayoritas mengetahui desa wisata Dieng dari website.
Jadi, sejak ada DCF ini mulai banyak wisatan yang datang ya?
Iya. Di awal penyelanggaran Dieng Culture Festival yang pertama (2010) sampai ke-4, kami selaku penyelenggara mengalami defisit. Setelah melakukan banyak evaluasi, event tahunan DCF yang ke 5 (2014) sudah mulai tertata dengan baik dan sudah ada profit-nya.
Berapa harga paket wisata Dieng?
Itu bergantung pada pilihan dari wisatawan. Kalau untuk harganya kisaran antara Rp 800 ribu- Rp 900 ribu. Sudah mendapatkan beberapa fasilitas, antara lain, tur wisata di berbagai lokasi, atraksi seni tradisional, guide lokal, oleh-oleh produk khas Dieng baik makanan khas ataupun produk kerajinan, dan homestay. Kami juga punya paket premium. Dengan klasifikasi dan fasilitas premium seharga Rp 1 juta- Rp 1,2 juta.
Saroji [Pelaku UKM di Dieng/Owner Makanan Khas Dieng “Trisakti”]
Salah satu destinasi wisata kuliner/makanan khas Dieng adalah gerai milik Saroji. Makanan khas Dieng berupa Purwaceng (tumbuhan herbal yang berfungsi sebagai pambangkit stamina), carica, dan terong merah yang diberi merek ‘Trisakti’ ini, menjadi pioner dalam membangkitkan gairah UKM di Desa Dieng khususnya dalam memproduksi makanan khas Dieng. Lewat binaan Pokdarwis Dieng Wisata, lulusan SD ini, mampu meraup omzet sampai Rp 1miliar per bulan. Sebagai rasa terima kasih dan syukurnya atas perjuangan bersama Pokdarwis Dieng Pandawa, setiap ada event tahunan seperti Dieng Culture Festival, Saroji memberikan minuman Purwaceng secara gratis ke pada ribuan pengunjung acara dan ikut memfasilitasi berbagai kebutuhan terkait Desa Wisata di Dieng.
Kapan Anda memulai usaha ini?
Sejak tahun 2000 saya sudah memulai UKM ini. Waktu itu belum banyak orang yang tertarik untuk mengemas makanan khas Dieng seperti Carica, Purwaceng dan Terong Belanda. Sebagian masih menganggap jenis usaha tersebut belumlah laku. Atas dukungan dari berbagai pihak terutama mas Alif (Pokdarwis Dieng Pandawa) saya dapat terus memproduksi makanan khas Dieng ini menjadi lebih baik. Baru di tahun 2006, UKM yang saya rintis ini bisa booming.
Apakah perkembangan bisnis Anda karena adanya desa wisata?
Ya, pokoknya saya berterima kasih banyak dengan Mas Alif (Pokdarwis Dieng Pandawa). Karena kerja keras beliau, bukan hanya saya yang merasakannya, melainkan juga 90% masyarakat di Dieng Kulon ini ikut merasakan kiprah Mas Alif. (***)

Sumber Berita : http://swa.co.id 

Popular Posts